Tentu saja. Meskipun tinta berbasis air sangat baik untuk banyak aplikasi dan disukai karena profil lingkungannya, mereka memang memiliki beberapa kekurangan yang berbeda dibandingkan dengan tinta berbasis pelarut dan yang dapat disembuhkan dengan UV.
Berikut adalah rincian terperinci tentang kekurangan tinta fleksografi berbasis air:
Pengeringan Lebih Lambat: Air memiliki panas laten penguapan yang tinggi, yang berarti membutuhkan energi yang jauh lebih banyak untuk mengering daripada pelarut organik. Hal ini berarti kecepatan cetak yang lebih lambat.
Biaya Energi Lebih Tinggi: Printer harus menggunakan terowongan pengering yang lebih bertenaga dan lebih panjang, yang mengkonsumsi listrik dan gas dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan biaya operasional.
Keterbatasan pada Substrat: Kecepatan pengeringan yang lambat membuatnya sulit untuk mencetak pada film plastik yang sensitif terhadap panas, tipis, atau tidak berpori tanpa sistem pengeringan yang canggih (dan mahal).
Tantangan Inti: Ini adalah kelemahan terbesar. Tinta berbasis air kesulitan untuk menempel pada film plastik yang tidak menyerap, seperti Polyethylene (PE), Polypropylene (OPP, BOPP), dan PET.
Mengapa Hal Itu Terjadi: Tinta berada di permukaan dan tidak dapat diserap. Air harus menguap sepenuhnya sebelum film tinta terbentuk, yang sulit tanpa substrat menariknya masuk.
Solusi: Hal ini seringkali memerlukan pra-perlakuan film (misalnya, perlakuan korona) untuk meningkatkan energi permukaannya dan penggunaan aditif khusus dalam tinta, yang menambah biaya dan kompleksitas.
Ketahanan Gosok Lebih Rendah: Meskipun bagus di atas kertas, film tinta dari tinta berbasis air bisa kurang tahan lama dan lebih rentan terhadap goresan atau terhapus pada substrat tertentu dibandingkan dengan film keras yang dibentuk oleh tinta pelarut atau UV.
Masalah Ketahanan Air: Ironisnya, film tinta berbasis air terkadang dapat dilarutkan kembali oleh air atau kelembaban tinggi setelah pencetakan, yang menyebabkan noda atau kerusakan kecuali diformulasikan dengan resin tahan tertentu.
Kepadatan Warna dan Kecemerlangan: Mungkin lebih sulit untuk mencapai kekuatan warna yang sangat tinggi dan hasil akhir yang mengkilap dan cerah yang dapat diberikan oleh tinta pelarut atau UV pada film, meskipun kesenjangan ini telah menyempit dengan teknologi resin canggih.
Masalah Umum: Aksi mekanis tinta yang bersirkulasi dalam pompa dan air mancur dapat menyebabkan tinta berbasis air berbusa.
Efek Negatif: Pembusaan menyebabkan cacat cetak seperti lubang jarum, warna tidak rata, dan ketidakefisienan pemompaan. Hal ini memerlukan penggunaan terus-menerus penghilang busa dan agen anti-busa, yang merupakan aditif yang harus diseimbangkan dengan hati-hati untuk menghindari pembuatan masalah lain seperti mata ikan atau pengurangan adhesi.
Pelemahan Substrat Berbasis Kertas: Pada substrat yang sangat menyerap seperti papan bergelombang, kelebihan air dapat melemahkan serat kertas, mengurangi ketahanan terhadap penghancuran kotak dan memerlukan formulasi tinta dan kontrol yang cermat.
Membutuhkan Pengelolaan yang Cermat: Tinta berbasis air sensitif terhadap kadar pH, yang harus dipertahankan dalam rentang tertentu (biasanya 8,0 - 9,5) untuk kinerja yang optimal. Jika pH turun, resin dapat menjadi tidak stabil, menyebabkan tinta mengental, kehilangan sifat transfer, dan berpotensi menyumbat rol anilox.
Pemantauan Konstan: Printer harus terus memantau dan menyesuaikan pH dengan amonia atau amina dan mengontrol viskositas dengan air atau aditif, yang membutuhkan lebih banyak keterampilan operator pers daripada dengan tinta UV yang lebih stabil.
Pertumbuhan Biologis: Kandungan air membuat tinta ini rentan terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur, terutama jika disimpan dalam waktu lama. Hal ini memerlukan penambahan biosida.
Pembekuan: Tidak seperti tinta berbasis pelarut, tinta berbasis air dapat membeku jika disimpan dalam kondisi dingin, yang dapat merusak struktur kimianya secara ireversibel dan membuatnya tidak dapat digunakan.
“Kekurangan” tinta berbasis air hanya benar dalam konteks yang salah.
Untuk mencetak pada substrat berpori seperti kertas, karton, dan karton bergelombang, tinta berbasis air seringkali merupakan pilihan yang unggul, dan keunggulannya (keamanan, keberlanjutan, biaya) jauh lebih besar daripada kekurangannya.
Untuk mencetak pada substrat non-pori seperti sebagian besar film plastik, kekurangannya menjadi rintangan utama. Dalam aplikasi ini, tinta berbasis pelarut atau tinta yang dapat disembuhkan dengan UV biasanya dipilih karena adhesi, daya tahan, dan waktu pengeringan yang lebih cepat, meskipun kandungan VOC atau biayanya lebih tinggi.
Kuncinya adalah mencocokkan teknologi tinta dengan substrat dan persyaratan kinerja produk cetak akhir.
![]()